ruh kita bergayut di pohon tanpa riwayat
datanglah, saat mabukku
memintamu berbaju rindu
tapi mengapa lekas rindang bila kau datang?
mengapa ada gamang bila kau pulang?
sebab kulihat gaun bulan terlantar di dahan
dan cinta menjadi tiada selama waktu terjaga
datanglah, saat kata memberat
saat ruh cemas terlepas
berulang ditikam hujan-panas
tapi mengapa lukai tanah sendiri
jika harus berpijak lagi?
sebab air mata bukan sembarang perkara
tapi kita membuatnya sederhana
—sepi makna
Surabaya, 2006-2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar