Sabtu, 13 Februari 2010

Trembesi

ruh kita bergayut di pohon tanpa riwayat

datanglah, saat mabukku

memintamu berbaju rindu


tapi mengapa lekas rindang bila kau datang?

mengapa ada gamang bila kau pulang?


sebab kulihat gaun bulan terlantar di dahan

dan cinta menjadi tiada selama waktu terjaga

datanglah, saat kata memberat

saat ruh cemas terlepas

berulang ditikam hujan-panas


tapi mengapa lukai tanah sendiri

jika harus berpijak lagi?


sebab air mata bukan sembarang perkara

tapi kita membuatnya sederhana

—sepi makna



Surabaya, 2006-2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar