Segalanya memang bisa diserahkan pada kemungkinan. Begitu pula segala pola pemikiran yang dimiliki kaum mahasiswa. Mahasiswa, yang diidentikkan dengan dunia intelektual, sangat punya peran membangun dan menerapkan dengan suara lantang jargon tentang semangat pembebasan dan pembaruan. Mereka sering pula diidentikkan dengan konsepsi idealisme yang tertransformasikan ke wilayah praktis.
Pengidentifikasian itu, bisa jadi merupakan gejala generalisasi yang mereduksi pandangan pihak-pihak yang sama sekali belum mengenal dunia mahasiswa, atau mereka-mereka yang pernah punya pengalaman sebagai mahasiswa namun ia hanya punya pengalaman sosial yang berkutat dalam satu komunitas saja sehingga konsepsinya cenderung tereduksi—konsep ideal tentang mahasiswa menurutnya adalah yang menurut konsep komunitasnya.
Salah seorang teman pernah mengatakan, mahasiswa punya kedudukan sosial yang aman. Mahasiswa merupakan kelompok sosial yang “mengambang” atau berada di kawasan perbatasan. Masa-masa saat seseorang menjadi mahasiswa adalah masa-masa yang penuh eksperimen, masa yang penuh coba-coba. Maka tidak salah jika mahasiswa adalah makhluk-makhluk gelisah, yang bisa dengan mudah meninggalkan kegelisahan itu setelah ia bosan. Dan dunia sosialnya tidak akan mengecam secara berlarat-larat karena tahu bahwa mereka masih dipengaruhi semangat mudanya yang menggelegak dan keras kepala.
Berbeda jika mereka telah menjadi sarjana. Tentu, stetmen-stetmen yang mereka gagaskan bukan sekedar thesis eksperimen yang “mentahan”. Jika para sarjana itu “mentah” dalam berpikir, jangan harap bisa bebas dari sanksi yang berlarat-larat. Tanggung jawab sosial seorang sarjana lebih besar, terutama yang berkaitan dengan bidang yang digelutinya.
Jadi, jika semangat idealisme itu dianggap ada dan terrepresentasikan dalam figur masyarakat mahasiswa, mungkin itu merupakan efek dari status sosial mahasiswa secara umum. Semangat idealisme mahasiswa bukan merupakan kenyataan yang utuh, murni muncul sebagai sebuah keberanian totaliter dari seorang (calon) intelek.
Semangat idealisme itu ada karena sebuah konstruksi sosial yang meletakkan mahasiswa dalam posisi yang aman, dengan tanggung jaawab sosial yang kurang begitu dipermasalahkan. Inilah tahap eksperimen itu. Terkadang mereka dianggap kelompok orang yang hanya berpikir untuk besok bukan untuk lusa. Dan setelah ia melepas “gelarnya” sebagai mahasiswa, dan banyak bersinggungan dengan kenyataan-kenyataan yang lebih plural, entah semangat idealisme itu apakah benar-benar ada. Atau, idealisme hanya menjadi jiwa tanpa raga?
Untuk itu, ada yang pernah mengatakan: mumpung masih mahasiswa, idealisme perlu dibangun dan dipertahankan. Mungkin ia sadar, idealisme benar-benar parsial, temporal, bahkan tiada pernah ada.***
(Abimardha Kurniawan)
NB: pernah dimuat di buletin Mercusuar, edisi September 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar