lirih suaramu rinai yang terdengar, meski hujan menguar
dan lisut pohon kehabisan debar di pangkal akar.
berkawan dingin menjelang dini hari
derai itu seperti kembali, lalu kuingat jua
sejumput klausa yang pernah kau tinggalkan
setelah hunjam kuku hujan melukai penjuru taman,
“tanah tak pernah salah,
ia hanya pasrah,
seolah menyerah...”
namun kini, pagi ini, kalam suara dan bisik kata-katamu
membatu di lubuk alamat tak tercatat
yang tak tergurat pada kelebat musim
yang singgah maupun lewat...
(Abimardha Kurniawan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar