senja yang membuang jarum gerimis
di batas temaram dan kelam
—bagai decak langkah pejalan menyeberang pematang,
ya, pernah kuingat gumam yang kau beri:
seperti gerak hujan di runduk rumputan,
sesunyi angin pagi
kueja dalam seratus nyeri
ketika kata tak lewat di sana
bagai guyur daun sepanjang musim
membangkitkan isak kota tua di rongga dada
aku sesak mengenang angin
angin yang tiupkan dingin gaib
dari lembah tak berpenghuni
dari hutan-hutan patah hati
ah tiada segala
—semesta, gugus purnama,
ataupun irama kereta yang melintas di cakrawala—
hanya lolong panjang serigala
jauh di dasar jurang mimpi—tiada mengentara
selamanya hujan tak pernah reda
butirnya memadat
menjadi kerikil di aspal jiwa
Surabaya, Januari 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar