semuram gumam,
malam mengendap di bibirmu
segera kuurai suaramu, yang kelak
mengalungkan dunia beserta lautnya
yang pasang,
yang garang, namun hening
membius dari taring gelombang
alangkah lembut mazmur kau gumamkan,
kemudian pasir kau sebarkan
tak tergumpal pedih di ingatan,
hanya ada sore yang disucikan
oleh basah cuaca, oleh suara tak kentara,
juga sunyi yang bertopi,
bercadar sampai ke pinggir bumi
“idih, bajumu,
bajumu yang kusut
bak bulan tak tersambut,
bolehlah kuusap
dan kusebut lewat lagu
sambil kucecap rasa langu di mulutku”
Surabaya, 2007
(Abimardha Kurniawan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar