Senin, 22 Februari 2010

Lirisisme, Patahan Sayap Kupu-kupu

setelah waktu memudar, kujumpai ajal datang melabur warna cokelat-pucat ke seluruh rumah. angin yang kulihat memusat, berarak melumuri tanah dengan bait-bait requiem tentang tenda-tenda yang dibangun hujan. aku melihatmu tertunduk di samping patahan sayap kupu-kupu. airmatamu meyerap cahaya dari timur: seakan mengharap hidup senantiasa menyala demi udara, serta kiasan yang muncul bersama halimun fana.


namun waktu terlanjur pudar, gemulai rambutmu tak menyimpan warna dan aroma bunga yang mengundang kupu-kupu datang. kini, hanya ada patahan sayap yang pelan-pelan terhapus dan memindah warna ke wajah cuaca yang kerap melempar cahaya duka. kudengar isakmu menggantikan angin, dan tetap saja sendu requiem berjejal membentangkan kafan, membungkus patahan sayap kupu-kupu tanpa langu lelayu.


lalu, kujumpai ajal mengusung keranda ke celah pintu udara sesak arwah dan kibaran bendera yang bertulisakan nama-nama tanpa raga. aku melihatmu terbaring di samping patahan sayap kupu-kupu. kudengar isakmu melepas angin dan hujan yang tinggal bayangan. iring-iringan pelayat menyayat tanah dengan langkah pasrah. sampai kemudian, kutemukan selubung rumah menjelma kuburan.


Surabaya, April 2007



(Abimardha Kurniawan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar