Selasa, 16 Februari 2010

Rubaiyat (dalam) Hujan

1.
jarum hujan tajam menghunjam
setelah bismillah tergerai menganaksungai
di atasnya, zarah bintang memejam
senja berderak, malam seakan capai

2.
kutemukan pelataran basah
oleh kaki hujan segala arah
tiba-tiba lampu kamarmu pun padam
kau terisak berbeban ladam dendam

3.
cintamu memutih di batu
sedang gairah terpaku jenuh air
betapa sendu engkau berlagu
menanggung rindu tiada berakhir

4.
terpacak ricik di alir parit
hujan seakan enggan berhenti
suaramu memeram dzikir dan rasa pahit
memendam sunyi di keluasan hati

5.
kucari engkau menyeberang sepi
tapi arus mengikatku
kutambat diri mengurai sunyi
terburu maut menyergapku

6.
bila rinai menyerang rindu diri
adakah engkau musik di lubuk hati
tapi kudengar erang di mulutku sendiri
dan bukan engkau: sakit yang menggapai tepi

7.
seakan tajam jarum hujan menikam senja
di harimu akan tumbuh seribu matahari
meski hujan turun di luas semesta
hariku terumbu berpayung matahari

8.
di rongga malamku, tak kuimpi risau kemarau
atau angin berdebu yang keras mendesau
mimpiku hanya mengais serpih gerimis
juga tak kuimpi matari menangis

9.
maka segala lebur di rahim hujan
lalu berlari aku, pasrah dan terengah
memeluk cumbu, membakar sunyian
kita berpayung, melintas di basah hamdallah


Surabaya, 2007—2009

(Abmardha Kurniawan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar