Senin, 15 Februari 2010

Soneta Ardiana

romantisme kotaku melebihi uap kaca, ardiana
terusung taman bawah sadar dan halte lama
lalu mengalir hampa. sebagai cakrawala dan pagar jiwa
hanyalah rumusan angka. tampak bergayut di atap kota

matahari bertubuh gulungan malam. dan dinding kota
selalu berukir syair-syair perjudian nasib
paling buruk. pun mobil-mobil menderu mendedah candu.

lingkari sedikit dari gitar yang luka, ardiana
simpanlah dalam kolom tidurmu yang kasat berbatu.
di kotaku hitungan maut bagai lorong angsana
yang ditinggal darah, bagai setumpuk tanah

yang terjual sejarah. akhirnya, sebuah menopouse kota
adalah rumah bagi lentingan arwah dunia publik
dengan mimpi-mimpi mekanik yang semakin berbalik.


Surabaya, 2005-2008

(Abimardha Kurniawan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar