Ketika disodori tema diskusi kali ini, yaitu “meningkatkan minat berkarya dalam ruang sastra”, saya membayangkan tentang sesuatu yang bisa membuat orang tertarik untuk menulis karya sastra, entah itu puisi, prosa, drama, ataupun esai apresiasi-kritik. Ada kesan pamrih di sini. Dalam artian, sastra harus memberi sesuatu kepada orang yang mau berkecimpung di dalamnya.
Itu sekedar anggapan temporal saya saja. Saya yakin, bukan sikap pamrih yang handak dituangkan dalam tema ini, melainkan motivasi untuk mendekati dan masuk ke dalam ruang sastra. Sesuatu yang positif. Sastra butuh aparat penggerak demi kelangsungan hidupnya, khususnya dari segi kepenulisan atau produksi karya.
Ada baiknya kita menilik pendapat Acep Zamzam Noor dalam sebuah wawancara dengan surat kabar nasional. Ia berkata bahwa jangan terlalu berharap hidup dari puisi (baca: sastra), namun bagaimana cara kita menghidupi puisi. Pendapat ini disampaikan ketika ia mengalami sebuah situasi yang membuat sastra begitu mahal di matanya.
Ia paham betul terhadap kerja sastranya secara pribadi. Menurutnya, honor ketika puisinya dimuat di media, tidak sebanding dengan “biaya” yang harus ia keluarkan bila menulis puisi. Menulis puisi, baginya, butuh waktu lama dan bisa menghabiskan rokok berbungkus-bungkus.
Meski tidak dengan maksud menggeneralisir kerja setiap pengarang, pendapat Acep di atas menyiratkan semacam pesan bahwa sebaiknya sastra didekati dari hal-hal material. Namun, sastra perlu didekati dari sastra itu sendiri. Nampak juga di sini, seorang Acep telah menemukan “ruangan” pribadinya dalam ruang sastra. Mungkin ia telah berasyik-masuk. Banyak hal yang tidak ia temui di dunia riil, ia temukan dalam puisi (baca: sastra).
Inilah yang membuat sastra hidup dan ditulis orang hingga kini dan (mungkin) sampai nanti. Banyak pengarang yang menjadikan sastra sebagai sarana ungkap bagi gagasannya, entah itu yang berkaitan langsung dengan karya sastra itu sendiri ataupun lingkungan sosialnya. Bagi mereka, sastra adalah sesuatu yang menarik sekaligus punya kekuatan berbeda.
Lantas apakah perjalanan sebuah karya sastra berhenti dari segi penciptaan (penulisan) saja? Atau kalau pun ia dibaca, hanya menjadi konsumsi penulisnya? Sebenarnya hal itu sah-sah saja, namun untuk batas-batas tertentu, dan lingkupnya sangat pribadi.
Dalam perjalannnya, sebuah karya sastra perlu diapresiasi oleh subyek yang lebih luas, tidak hanya pengarangnya. Apresiasi publik bisa dijadikan tolok ukur kualitas sebuah karya. Artinya, apakah ia bisa diterima atau tidak oleh pembacanya. Atau juga, sebuah karya bisa berinteraksi dengan subjek yang beragam latar belakangnya, dan bisa didapat pula ragam penilaian. Dari situlah, seorang pengarang bisa punya tolok ukur terhadap kualitas karyanya.
Tentunya, untuk menjangkau subyek pembaca yang luas dibutuhkan media publikasi. Media publikasi tidak hanya terbatas pada surat kabar, penerbitan buku, jurnal, dan sebagainya, tetapi juga media-media lain yang memungkinkan untuk diakses oleh pembaca yang mejemuk, internet misalnya. Bila dalam surat kabar ada “pintu-pintu” yang harus ditembus, maka saat ini sudah semakin banyak media yang dimanfaatkan oleh siapa saja, betapa pun ia seorang yang baru memulai proses kepenulisan. Dari situlah dialog nan intens dan tanpa batas bisa dimungkinkan.
Akhirnya, memang tidak ada resep yang manjur untuk menumbuhkan serta meningkatkan minat berkarya dalam ruang sastra, kecuali semakin banyak membaca, berkarya, dan tetap menjadi diri sendiri. Terima kasih. ***
(Abimardha Kurniawan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar