berapasang-pasang mata
kini menjelma matahari
yang terasing
di ketinggian suara
aku telah terjaga dan menggigil
di antara meja makan,
cangkir-cangkir kosong perjamuan,
dan sisa basi
masakan cepat saji
namun, matamu memandang:
nyalang sekaligus hampa –dan kutelan juga
bersama hamburan asap, bangkai mobil,
potongan bulevar, juga gedung-gedung kaca
yang menyala ditimpa cahaya
bahkan seperti mimpi
kau paksa pohon-pohon menumbangkan diri
lalu mendorongnya masuk ke gelap lambungmu
melewati pahat kesia-siaan yang kau siapkan
di sepanjang pengap lorong kerongkongan
sungguh aku bosan,
kau paksa aku menghafal daftar nama menu
yang tersaji bagi kematianku
hingga kudengar gelas-gelas di jantungku bergetar
seperti jerit kota yang terbakar
—tersekap deretan angka lanjut usia
idih, mulutku terus bersendawa—tak henti-hentinya
menguarkan kekosongan
tubuhku penuh lilitan tanda tangan
dari sekian surat perjanjian yang kau niscayakan
apa yang kau pertanyakan?
kau sekap kata-kata dari mulutku
dengan dering telepon tanpa jaringan,
tanpa kabar berita,
tanpa lawan bicara
sampai akhirnya,
dengan semua ini
musti kubaca lagi garis takdir ini
sebelum aku beranjak pergi
dari perjamuan
di kota merah ini
Surabaya, 2005—2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar