dan datang merasuk segala yang membujuk
sayangku, sunyikah itu
pemintal benang suaramu?
di puncak malam itu
akulah dengus peronda yang riang bernyanyi,
menabur kerlip konfeti,
serbuk bius, juga pedih setanggi
dari uapan rinduku
yang mengitari perbani
tapi, adakah dingin mengajakmu bermain
atau berkisah tentang bulan kesepian
di langit-langit mimpiku
yang hampir menjelma runtuhan
oleh beban kasmaran
dan serbuk-serbuk hujan?
sayangku, kusapa awal pesona
ketika cahaya hitam menerkam malam,
ketika jalan-jalan tengadah
—pasrah tergenggam basah,
alangkah pelan sunyi terdengar
serupa denting gitar menggeletar samar.
lalu aku menyelam ke lubuk tidurmu
menuliskan kembali sajak-sajak dungu
tentang seorang ibu
yang birahi menyusu
ke puting anaknya
yang terbujuk sunyi waktu
sayangku, barangkali di sini,
akan kutempa curiga
atas segala yang pulang dan yang tiba
sebab aku—riang peronda yang setia membaca,
berjaga demi cinta yang terjaga,
meski di tanganku
malam berai, lekas usai,
dan seluruh pagi
tumpah
—berderai ke dingin lantai,
lalu mengalir gontai,
sebimbang arus
dipecah batuan sungai
Surakarta—Surabaya, 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar