—Putri Utami
bahkan telah kukenal sebentuk kembara
angin yang berpusing di matamu,
seperti gerak sedih bocah-bocah
mengusung jisim daun bambu, memungut
luruh bunga randu, menampung air mata
di sumur batu
ternyata, waktu yang menjangkau rambutmu
ada melebihi hujan yang menggurat longsoran:
sejenak badai berpijak, ranggas bara
menjelma butir-butir bintang yang melayang,
meneteskan cahaya biru
–memecah di ceruk batu
dalam pesan sendumu, kulihat bocah-bocah
berlarian, girang mengejar kumbang
dan bermain, sembari menghisap bebayang pohon trembesi
yang dibuat matahari:
di manakah terik menyimpan dingin angin,
ingin kuterbangkan layang-layang
meski tiada sampai menyentuh langit
setelah benang lunas terentang!
dari arah matamu, percik api membagi duri
lantas membakar gulma
yang menjarah lapang pematang
yang jadi penghalang
palawija tumbuh menjulang
ya, kaulah pembakarnya
gairahmu nyala apinya
Surabaya, 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar