Jumat, 12 Februari 2010

Naila: Ingatan Sepanjang Bukit

1.
sebagaimana tingkap matamu melindap terkurung senyap
—kabut akan datang ke lengan bukit ini,
seketika mimpiku jadi ladang penuh kupu-kupu
sedang gerimis belum sempurna mencipta desember
bagi sunyi yang setia berarak ke ujung november

dingin pun turun menyulang jiwaku,
menuliskan bahasa samar pada getar riwayatku
namun aku ingin sesederhana rumput itu
: bergoyang-goyang dalam genggam angin
kemudian diam, berdekam menjadi sunyi
tatkala angin menarik langkah dan pergi meninggi

2.
sebelum siang memadam
sebelum malam mendekap warna ladam
langit akhirnya mendedah kandungan cuaca
setelah sekian lama menahan beban tualang,
rahasia, serta air mata

—inilah hujan yang kurasa sebagai permulaan
sebelum badai turun mengoyak perkampungan
inilah hujan yang mengusung senyummu
kepada ingatan dan tanah lapang di bantaran sunyiku
inilah hujan perulangan
meski bagi jelaga yang melulur bukit di dadaku
adalah hujan di mula waktu

Surabaya, 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar