Selasa, 16 Februari 2010

Kinanthi Kesetiaan

adakah kesetiaan menantimu
berbilik mata sahaja seorang jejaka
yang tangannya memapahmu sepenuh rela
‘tuk menyeberang sembarang hampa
dan lengang mahapanjang?

mungkin, kaulah rinduku, meski terasa fana,
sebab semalaman, bersama hujan,
kau bersenyawa ke dinding ingatan.

adalah selarik senyum bahasa lembutmu
yang kutafsirkan sebagai panorama sore
di sebuah ngarai lembah
dengan piuh angin berpilin,
dengan ragam layangan
yang dimainkan bocah-bocah ingusan

sesekali, hanya lembut bisikmu menyebut namaku
yang bisa kukhayalkan melintas,
ketika dari celah atap langit
hujan mengucur kian menderas

turunkan sedikit rindu
turunkan sedikit tirai cintamu
beri penerang suluh di sisi kamar yang hampir luluh.
kuingin hanya satu warna
: warna yang tiada kau ucap pada siapa jua.

juga mesra jiwa yang kau punya,
ingin kutuntun,
ingin kubantun ke lubuk pantun demi pantun

duhai adik, adakah setiap perpisahan
akan mengekalkan kesetiaan? sebab kini
di setiap jengkal pagi, yang kulihat
hanya segenap puing hujan yang semalam lewat


Blitar, 2008

(Abimardha Kurniawan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar