Menulis memang bisa dikatakan bukan perkara mudah, apalagi menulis puisi. Pada dasarnya, menulis merupakan salah satu aktivitas komunikasi dengan media bahasa. Itulah gambaran umumnya, yang tentu saja puisi termasuk di dalamnya.
Puisi, sebagaimana juga jenis sastra yang lain, dianggap sebagai aktivitas komunikasi yang tak langsung. Artinya, jenis tulisan-tulisan tersebut memiliki simbol tersendiri yang berbeda dengan simbol-simbol dalam komunikasi umumnya. Lebih-lebih puisi yang dicap sebagai penyandang esensi sastra yang paling representatif.
Ungkapan seperti itu barangkali dicetuskan oleh orang yang memiliki apresiasi tinggi terhadap puisi, bukan jenis sastra lainya semacam prosa atau drama. Kadang kala, semakin rumit proses komunikasi yang ditawarkan, maka semakin bernilai puisi tersebut. Itulah sebabnya, pernah ada sekelompok penggerak aliran seni di daratan Eropa menganggap puisi sebagai media paling pas untuk menampung ekspresi-ekspresi yang paling liar sekalipun. Sebab mereka berpandangan bahwa dalam puisi ruang (deskripsi) dan waktu (narasi) bisa dibebaskan.
Anggapan semacam itu mungkin tercetus dari pandangan yang sempit mengenai puisi, atau juga ideologi-ideologi yang mereka tawarkan dalam menyikapi puisi. Jika ditelusuri lebih jauh, banyak sekali jenis puisi yang “tak membebaskan diri” dari belenggu narasi dan deskripsi. Misalnya saja puisi epik, atau tÄ›mbang di lingkungan budaya Jawa. Puisi tidak bisa disempitkan pengertiannya, terutama jika melihat konteks perkembangannya.
Bagi seseorang yang baru menulis puisi, pandangan-pandangan formal puisi serng menjadi acuannya. Misalnya tentang rima yang harus sama di setiap akhir baris, atau jumlah suku kata yang harus seimbang. Pandangan iu tidak bisa disalahkan karena sering terjadi akibat pengetahuan bawaan. Seseorang mendapat pengetahuan tentang puisi dari guru-guru bahasa di sekolahnya. Secara tak sadar pegetahuan itu terlembaga dan menjadi acuan formal. Sekali lagi hal itu bukan kesalahan, melainkan sangat diperlukan dalam membangun pandangan-pandangan yang nantinya bisa mereka kembangkan.
Setidaknya mereka yang berangkat dari pengetahuan itu perlu mendapat “kejutan-kejutan” setelah dihadapkan dengan wacana puisi yang sangat beragam. Dari situlah, sikap mereka terhadap puisi bisa dibangun. Singkatnya, mereka sudah punya bekal untuk menapak ke wilayah-wilayah selanjutnya yang lebih beragam.
Pernah ada yang mengatakan bahwa menulis puisi, atau jenis sastra lainnya, perlu berangkat dari hal-hal yang formal dulu, bukan melompat ke wilayah kreatif yang lebih kompleks dan beragam. Sebagaimana orang yang hendak melompati pagar yang tinggi, dia harus punya anangancang dan landasan berpijak yang kuat. Ada benarnya anggapan itu. Sebab sering kali orang-orang yang melompat ke wilayah kreatif yang kompleks tersebut, terjebak ke dalam ilusi pembaruan dan penyikapan yang buta terhadap karakter tulisannya. Hal-hal seperti ini perlu dihindari agar sesorang mengetahui arti sebuah proses yang membutuhkan intensifitas.
Menulis puisi dengan intens akan membantu proses penemuan jati diri atau karakter penulisan. Tak perlu bingung jika orang-orang mencerca karya-karya kita, yang penting proses harus terus berjalan. Tentunya hal itu juga perlu diimbangi dengan penjelajahan wacana agar suatu pandangan dan sikap tidak terlampau sempit apalagi buta.
Oleh karena adanya pertimbangan komunikasi, tentu seseorang harus paham betul apa yang hendak disampaikan. Seseorang yang tidak mengetahui maksud apa yang hendak ia sampaikan melalui puisi, seperti orang hanyut di arus sungai yang deras tanpa bisa meraih pegangan agar ia selamat.
Intinya jangan berhenti menulis, khususnya puisi. Pertahankan proses yang telah dilalui agar ia terus berjalan dan berkesinambungan. Jika dihadapakan pada halangan-halangan yang menghambat dan serasa memupuskan semangat, sikap terbaik adalah memulai. Sebab memulai adalah awal untuk melangkah ke proses selanjutnya. Tanpa memulai ide-ide kreatif tak akan menjadi suatu yang nyata dan dapat diapresiasi orang lain. Mungkin ini dulu.***
(Abimardha Kurniawan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar