kalau malam ini hujan tak turun
aku akan datang, mengisi kembali gelas-gelasmu yang kosong, dengan marun helai rambutmu yang tertinggal di rak buku. juga dengan surat-surat yang tak terbalas, setelah dalam bicara, segala aksara telanjang dan terbunuh di kolong ranjang. selalu aku bingung mencari ciuman pertama kita yang hanyut dalam selokan sebelah rumahmu, dulu, ketika hujan menyihirmu jadi peragu.
tapi malam ini hujan turun
seperti suara-suara deik terantuk tiang dan kabel listrik, “dengarlah lembab mulut radio di atas tungku menyala itu, menyeru seru!” barangkali di penjuru rumahmu belum terpasang jaring, biar matahari lekat di dinding, dan membuatku duduk—atau berbaring—sambil menggambar lintasan waktu dengan puntung dungu dan remah abu.lalu teringat olehku tangis pelacur bisu dalam teko berkarat itu, hampir saja mengoyak muram dengan hampa isaknya. hussh! diamlah! gumpalan hujan sepotong-sepotong lebam, leleh, setelah diang menampar hidungnya!
perlahan hujan reda
jam yang lapar gelombang masih kudengar berlayar. denyar pikiran meninggalkan ingatan pada kursi dan meja makan.kesepianku sibuk memindah gigil dari kaca jendela ke dalam botol bir yang ½ terisi. juga memandang di taplak mejamu: kilang-kilang minyak berbaris, satu persatu ludahkan ampas politik, serta gerutu gagu para demonstran konyol, yang pulang dengan lubang di pelipis: bekas anak pistol. atau barangkali, kerut jejakmu pada butir hujan ini, kisahkan sebuah negeri yang terjebak ranjang berduri?
ah, hujan tak benar-benar reda
gelasmu belum terisi penuh.sedang langkah tak lunas mengenyam jiwa ombak. sang waktu memilih celah paling sunyi dari kekosongan menuju siang. atau, kesendiriankah yang tiba-tiba datang?
surabaya, 2005
Tidak ada komentar:
Posting Komentar