Senin, 15 Februari 2010

11 November 2001

—Elok Tri Handayani

antara pagi dan senja, di tengahnya
laut terlipat, perahu-perahu menyelinap
ke retina yang terbuka
seperti sobekan pada tepi amplop surat cinta
yang kau kirim ke alamat asing
yang lama kupendam di belantara peta buta

tapi bagaimana bisa kau eja
rahasia peristiwa yang lintas
atau membatu di pelupuk mataku
ah, bagaimana kau bisa tahu?

sewaktu bulumatamu jatuh ke sudut pipimu,
dunia rindu berkubang di lubuk kenang
bersama ombak kecil yang sopan berlarian
berulang menyapa selamat siang yang kau senyumkan.

tapi, di bawah gumpalan uap beku kelabu,
udara hamil oleh selaksa gerak debu
seperti tinta hitam masa silam
yang tercacar—nyaris sempurna menyaput aksara
penyusun alamat surat cinta yang kubuat
sepenuh hayat:

nafas perahuku berguncangan
: gamang dan sendirian, sedang topan di darat
tak berjalan, atau menggambar sebentuk lengan
untuk mengaduk kuah lautan

kini,
kau tercatat sebagai alamat,
dalam surat cinta yang terlipat
menjadi perahu kertas
yang kulayarkan ke laut lepas
—tak mungkin berbekas,
juga tak terbalas...


Surabaya, 2007

(Abimardha Kurniawan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar