Senin, 22 Februari 2010

Tahilalat di Bibirmu

setitik dunia berbisik ke sunyi lautku:
ia sebangsa kenang, sebangsa padang
yang menampung selaksa ruang
yang kujelmakan harum bayang-bayang

engkau merangkum senyum
pertanda hujan merapat ke sisi daun
sebelum ranum

dan masih kupilih tahilalat di bibirmu
sebagai titik api
juga isyarat bagi kelasi memutar kemudi
mencari sudut di cakrawala panjang
meski masih ada sepenggal rasa hilang:
tiada daratan ‘tuk arah pulang,
segala merentang tualang
sedang rasi bertutur pasi
tak berkisah tentang cinta yang datang

engkau merangkum senyum
tiada tiba reda, hujan terus bernafas
—deras dan menggerum

maka kucari tambat pada tahilalat
—ya, tahilalat di bibirmu, seperti temali
yang erat mengikat sepi abadi dini hari,
seperti jejak bintang yang tak lekang kubaca,
seperti jalar beluntas di pagar-pagar.
senyummu bangkit mengikut angin,
mencari jalan-jalan sunyi yang bermimpi diberkati,
lalu menjelma bahasa yang enggan dilupa

engkau pun tersenyum
tahilalatmu hiasan yang bertahan
bahkan kekal diguyur hujan

dengan tarian jarum
di lingkar kompas yang gelisah
telah kusapa segala tanda arah,
dan hanya termaktub dua kutub
namun tahilalatmu serupa rahim waktu—
dimana segala bermula, segala bergerak,
segala menua, segala membatu
—menjadi noktah yang menafsirkan
bahwa dunia bertumpu pada satu ibu

lalu kueja setiap gelombang
yang datang mengetuk rumah tanpa gerbang
dan masuk, berkabar tentang sisa kenang
juga rindu perindu yang mabuk

maka kusimpan saja senyummu
—juga tahilalat di bibirmu, ke dalam almanak
yang kelak bersuara selantang lautan,
menyihir ingatan dengan gerimis
yang selalu ritmis kau bisikkan
ya, kau bisikkan


Surabaya, 2007


(Abimardha Kurniawan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar