kepada pelataranmu—hujan berpijak
dengan kaki seruncing mata tombak,
dengan nafas sengau
bagai resah daun kehilangan hijau. akan
lekas malam bila senja berbaju sisik hujan
dan masih di cermin matamu:
kulihat seorang bocah terengah
—menanggung pelarian di tengah hujan
suara siapa tiba dikabarkan bunga?
ketika selubung rumah hampa,
pintu-pintu berkarat engselnya
dan mengunci diri: tiada terbuka,
jendela itu masih segar memapar sebentang luar
dimana kutemui tangismu, atau jari-jemarimu
lincah menyirak bunga jambu, sembari nyanyianmu
terbantun di bawah madah yang meraung
membaringkan musik arwah penunggu gunung,
—mengurung gaung
jika sepi menuntunmu ke pematang sunyiku
maka jadilah embun yang merantau
demi lukisan hujan di kanvas kemarau. sejenak udara ganjil
setelahnya kembali khusuk merabuk gigil
dan terasa, senyummu melepas rama-rama
ke ekor senja: meninggalkan penyap pelataran
menggapai bicara yang pecah di udara
Surabaya, Februari 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar