Sabtu, 13 Februari 2010

Kepada Pelataranmu

kepada pelataranmu—hujan berpijak

dengan kaki seruncing mata tombak,

dengan nafas sengau

bagai resah daun kehilangan hijau. akan

lekas malam bila senja berbaju sisik hujan

dan masih di cermin matamu:

kulihat seorang bocah terengah

—menanggung pelarian di tengah hujan


suara siapa tiba dikabarkan bunga?


ketika selubung rumah hampa,

pintu-pintu berkarat engselnya

dan mengunci diri: tiada terbuka,

jendela itu masih segar memapar sebentang luar

dimana kutemui tangismu, atau jari-jemarimu

lincah menyirak bunga jambu, sembari nyanyianmu

terbantun di bawah madah yang meraung

membaringkan musik arwah penunggu gunung,

—mengurung gaung


jika sepi menuntunmu ke pematang sunyiku

maka jadilah embun yang merantau

demi lukisan hujan di kanvas kemarau. sejenak udara ganjil

setelahnya kembali khusuk merabuk gigil

dan terasa, senyummu melepas rama-rama

ke ekor senja: meninggalkan penyap pelataran

menggapai bicara yang pecah di udara



Surabaya, Februari 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar