sebentar saja, renyah cerita ringanmu memisahkan daun dari hujan
teh dalam gelas yang cuil bibirnya, terlalu lama bungkam
:mengasingkan diri dari catatan suhu yang hangat
ah, andai saja alkohol merah termometermu mampu meraba
demamnya
tapi, tiba giliranku menunggu kini di warung kaki lima langgananku
tanpa kretek sigaret, buku catatan, pensil kayu yang ujungnya rapuh
oleh gigitanmu. apa musti kuberi judul puisi ini biar tak terbakar sunyi?
atau judul-judul itu malah menggunduli sunyiku sendiri?
ah, barangkali kau temu jawabnya
sehabis tuntas kau baca puisi tanpa judul ini...
Surabaya, 22 April 2009
(Abimardha Kurniawan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar