Rabu, 21 April 2010

Sematkan Sepucuk Tangismu

sematkan sepucuk tangismu di antara lembayung
langit sore, di antara tajam surya warna tembaga
antara kubah awan yang rapuh
menggayuti tinggi lazuardi.

bila memang harus tangis yang (mesti) terurai,
uraikan ia, bahasakan ke seluruh penjuru
ucapkan bersama angin
yang tiba dan berkelana
yang menyapa setiap sunyi manusia

sematkan sepucuk tangismu
sematkan di sela daun, kuncup
di sela ranting yang merindu bayu
di sela hutan, di taman-taman keheningan

sematkan sepucuk tangismu
serukan ke arah langit
agar langit membacanya
serukan ke lubuk bumi
agar bumi setia memeramnya

mungkin dalam tangismu,
tersimpan tangis semesta:
tangis sederhana
yang jatuh berduka
meski tanpa airmata.


2008



(Abimardha Kurniawan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar