— H.H.
mengapa tak terkabar
perasaan ingin menyentuh bulan
hanya tersimpan di sela catatan:
bersama aksara, kabut, hijab perantara
bahkan suara tanpa rupa
— tanpa suara
mengapa harus diam ditabal
dalam tanda yang fana
ketika hening menyusut
api perasaan tersulut di sudut
berpagut selingkung sunyi
pada serpih hati yang bernyanyi
dan bernyanyi
juga mengapa terlipat surat demi surat
dan tersimpan di sela halaman buku catat
seperti tanpa alamat, seperti tak bertuju
lalu berdebu, tersamar tawa hantu
duh diammu itu
— diam tak berungkap itu...
Yogyakarta, Juni 2007
(Abimardha Kurniawan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar