/1./
dan aku tandai detik-detik kejatuhan ini
sebagai hujan dini hari
esok, temukan tanda kehancuran yang sarat
memadat di cekung mataku
dan mungkin hidup akan jadi sebentuk kiasan
yang enggan didendangkan hujan
di luar kamar
kudengar orkes hujan menabuh udara pagi
butiran basah yang luruh melumuri tanah
kelak kusampaikan sebagai hadiah
bagi bumi
yang mengigau
oleh desau dan risau angin kemarau
/2./
dalam perjalanan tanpa isyarat
kurindu engkau datang membangun tahun kenangan
laiknya kematian yang disempurnakan hujan
segala simpang yang kupandang
hanya berdiang mendekap lengang
bila coba kubaca
ke laut mana setapak ini berakhir
—tiada nafas yang bergegas, amukan buas
badai musim panas, atau sayap angin
yang menuntun ranting getas beranjak lepas
tapi ini perjalanan hampa
dengan arah mimpi
serta bubuk kenangan yang menguap sia-sia
2007
(Abimardha Kurniawan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar