ada kubangan tertimbun pasir
kau menatapnya dengan was-was
dengan hujan selintas
dari mata — dan menetas
menitahkan basah ke pori-pori tanah
seakan dulu pernah tanggal helaian waktu
dan kau tinggalkan di ceruk kubangan itu
sampai membatu
kau pun merentang jejak berlari lagi menari-nari
kau sunggi usang kesilaman tak berjejak
— setelah kau retas, kau tisik kembali
serentang jalan setapak
dalam bayang-bayang gerimis
kau tatap kubangan penampung air
bayang-bayangmu mengalir
di antara bayang-bayang gerimis
cahaya tersamar, berangsur ke wujud pudar
dan masih kau tatap kubangan itu
kemudian hujan menderas dari sudut matamu...
2006
(Abimardha Kurniawan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar