/1./
sejumput ketukan di sisi langit memejamkan matahari
januari membuka gaun, segera kita lari
memungut gugur daun.
“rambutmu basah oleh desember.
tak puaskah engkau larut jadi serpih
yang berayun di ranting masa lalu?”
namun, bukankah kita selalu terjaga dalam bahasa
atau riuh mengembara: serupa suara,
serupa barisan hujan yang luruh satu persatu di kaca jendela.
“dan kita mengenangnya?”
entahlah.
tapi kita tetap bertutur
meski gelap membayangi bahasa yang kita sapa.
kita tuang saja ke dalam gelas aksara
atau kekosongan kata.
“duh, sungguh jauh madahmu itu
seakan tiada kesungguhan dalam ucapan,
tiada kepastian mengalir hingga ujung bulan.
bukankah penantian adalah ihwal kekosongan
yang lama kita impikan
yang sama kita lagukan?”
entahlah...
/2./
coba mainkan musik. genapi nada yang belum terbaca.
jangan kau biarkan malam merusak taman
taman yang kau buat di rongga dada,
di tengah istana cuaca, atau di setiap pagar beranda.
tidakkah kau temukan apa yang membuat kita terbata berkata
serupa boneka. mungkin saja sebentuk penaggalan kita susun
tanpa alur, hanya kecemasan yang coba kita kuburkan
di liang masa depan.
“muskil! sungguh muskil sebuah cemas kau kemas
di lenguh tubuh hampir lemas!”
ah, entahlah.
/3./
maka kudaraskan puisi ini jauh di garis dinding
yang patah menjelma cakrawala — sebuah tiada,
sebuah jengah yang terus merambati ruang tersisa.
tapi, bukalah pintu. biarkan udara segar melayap ke rongga badanmu
lalu membangun sepetak ruang baru di jantungmu. mulailah,
bergegaslah berlari sepanjang pematang yang nampak lengang.
meski semenjak dulu kau pun tahu
tiada arah untuk langkahmu di situ...
2007
(Abimardha Kurniawan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar