Selasa, 02 Agustus 2011

Di Berandamu

saat-saat tak terhindarkan, ini mungkin suratan
segelas teh dalam genggamanmu terlanjur dingin
dan kita enggan berbincang, mengudap sisa biskuit
selagi bisa membayangkan sebuah ruangan
berjarak tujuh ribu depa dari kenangan

angin membawa harum rindu burung gereja
setiap serat penyusun kursi rotan, begitu akrab
mengenali peristiwa demi peristiwa tanpa sengaja
tapi bukan diam kita, cuma detak penanda
pembuluh darah berkejap dan berkejap
— dan diam kita alangkah semakin lengkap

di sini, terlalu kosong rindu, pertemuan usang
lemah memindai segenap gamang
aku melabuhkan bosan,
merampungkan headline halaman depan
tapi senyummu sesederhana meja beranda
menunggu cerita orang-orang yang tak pernah tiba...


2010


Abimardha Kurniawan

Isyarat Terakhir

setitik isyarat terakhir membawa perahuku bergulir
ke pesisir. tiada yang kutemui, kecuali
cangkang kerang kosong ditinggalkan,
juga aku yang terpisah dari puisi kesekian.

gebalau buih masih tak sendiri, riuh mereka
mengirim perih luka, tajam sengat garam,
mungkin juga rintih kapal karam dari dasar laut dalam.

tapi ke mana kau bersulih, hingga pantai bersih;
tanpa jejak, keluh kekasih, dan sebait lagu sedih?

dan, ah, sunyi demikian bengal dan bebal
betapa mahir ia membujuk nelayan tinggal,
berpaling, abai pada koyak layar tak tertambal...


2010


Abimardha Kurniawan

Stanza Bulu Mata

lengkung bulu mata milik boneka yang kau timang dulu
kini menjelma gemaris indah yang menggigir
di sisi sayu pelupukmu. lembaran cahaya pun berlompatan
dari keajaiban sepasang tatap mata

dan aku menyebutnya — surat cinta...
ah, lengkung bulu mata yang menyimpan bianglala,
yang menyeret gemulung awan ke ambang senja,
kini jadi hujan dalam kata-kata yang tengah kau baca


2010


Abimardha Kurniawan

Sebelum Kata

ingin aku ciptakan kata demi kata
yang mampu membuahkan senyum bibirmu
setelah gerimis rahasia
menyusun cerita tentang malam
yang membeku pada helaian rambutmu


2010


Abimardha Kurniawan

Terdengar Suara Hujan

terdengar suara hujan mematuk punggung jalan,
terakota atap, selaput daun, dan tik-tok detik terbantun.
cahaya pun murung, langit muram
gagal mengumpan bianglala dari lubuk cuaca

“aku rindu mati, aku rindu
papan namaku kau paku di punggung pintu.
seperti engkau hujan
— aku selalu menunggu luruh di pelataran”

terdengar suara hujan menginjak rumput taman,
lantai trotoar, meniti kawat-kawat menjalar:
seakan pekik mualim memanggil,
membujuk bujang datang berlayar

“aku rindu ombakmu, aku rindu
bahasa laut yang fasih mengucap maut.
hujan, kau gurat sungai,
kau jadikan jalan, atas temali cinta
antara hulu dan muara.
hujan, ciptakan laut di atas dunia
biar manusia bersua hakikatnya”

terdengar suara hujan menjentik di air kolam,
gigil kerikil, dan bebatuan yang mengulum diam
— mungkin juga mengulum dendam


2007


Abimardha Kurniawan

Nyanyain Pagi

kini, aku dan puisiku kembali menghirup pagi
setelah kemarin, kukenang kata-katamu
— juga warna senyummu— sebagai ketabahan senja
yang selalu membuka pintu, bagi angin, hujan,
serta malam

aku mengeja cinta yang penuh nyanyian
namun enggan aku suarakan, sebab aku biarkan
ceracau hujan riang berkejaran
dengan bisik gugur daun yang jatuh di jalanan

akhirnya, seisi pagi aku lukis jua lewat kata,
lewat demam rindu yang terus bersuara,
oleh karena senantiasa aku tahu
diri dan puisimu, berlagu di situ...


2007


Abimardha Kurniawan

Malam Hujan

maafkan, ini malam terlampau sesak

berbeban sunyi dan geligi hujan.


aku pun terhalang pada pandang,

gagal menjumpai kata-kata berperahu,

menempuh riam jeram sungai berbatu,

dari bibirmu

jauh ke pedalaman tidurku...



2006



Abimardha Kurniawan