saat-saat tak terhindarkan, ini mungkin suratan
segelas teh dalam genggamanmu terlanjur dingin
dan kita enggan berbincang, mengudap sisa biskuit
selagi bisa membayangkan sebuah ruangan
berjarak tujuh ribu depa dari kenangan
angin membawa harum rindu burung gereja
setiap serat penyusun kursi rotan, begitu akrab
mengenali peristiwa demi peristiwa tanpa sengaja
tapi bukan diam kita, cuma detak penanda
pembuluh darah berkejap dan berkejap
— dan diam kita alangkah semakin lengkap
di sini, terlalu kosong rindu, pertemuan usang
lemah memindai segenap gamang
aku melabuhkan bosan,
merampungkan headline halaman depan
tapi senyummu sesederhana meja beranda
menunggu cerita orang-orang yang tak pernah tiba...
2010
Abimardha Kurniawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar